RS Dirikan Depo Pelengkap

 

Untuk mengatasi kendala ketersediaan obat-obatan di Apotek Rumah Sakit yang sering dikeluhkan pasien yang sering diarahkan menebus obat di luar rumah sakit (RS) pihak RS Pambalah Batung Amuntai kini mendirikan depo pelengkap yang khususnya menyediakan obat-obatan ber merk yang selama ini kurang tersedia di apotek rumah sakit, namun untuk menebus obat di depo pelengkap ini pasien tetap dikenakan tarif.

Kadid Informasi, promosi dan layanan pelanggan Rumah Sakit (RS) Pambalah Bantung Masbudianto, SKM mengatakan dengan adanya depo pelengkap ini pasein yang berobat di RS tidak perlu jauh-jauh lagi menebus obat, khususnya untuk obat-obatan ber merk. Dikatakannya, harga obat didepo pelengkap ini memang tidak jauh berbeda dengan harga obat di Apotek lainnya, namun kegunaan depo pelengkap ini supaya pasien tidak repot-repot lagi ke luar RS menebus resep obat.

Khususnya untuk pasien kelas III memang digratis menebus resep obat di Apotek RS, yakni untuk obat-obatan yang sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan (menkes) yang memang menggratiskan obat-obatan tertentu bagi pasien pemegang kartu jaminan kesehatan daerah (jamkesda) dan Kartu Sehat Amuntai (KSA). Pihak RS juga menyarankan dokter untuk memberikan resep obat yang termaktub dalam SK Menkes tersebut, diantaranya berupa obat-obatan generik yang khasiatnya sama dengan obat-obatan ber merk.

Namun masalahnya, kata Masbudianto karena pertimbangan penyakit yang diderita pasien, dokter maupun pasien acapkali lebih memilih menebus obat-obatan ber merk yang seringkali tidak ada dalam daftar obat yang termaktub di SK Menkes. “Tidak terkecuali pasien kelas III kadang meminta resep obat-obatan yang bukan generik sehingga pihak RS tetap mengenakan biaya apabila pasien menebusnya di Depo pelengkap rumah sakit” tandasnya. Padahal, lanjut dia, daftar obat yang sesuai SK Menkes tersebut sudah cukup lengkap sesuai kebutuhan pasien pemegang kartu KSA dan Jamkesda.

Memang diakui pula, sebagian obat generik ada juga yang tidak masuk dalam daftar obat SK Menkes, namun harga obat generik ini jauh lebih murah dibanding obat-obatan ber merk. Ia tidak menutup-nutupi kemungkinan terjadi bisnis tersendiri antara dokter dengan pihak apotek di luar rumah sakit terkait pembuatan resep obat karena hal ini telah menjadi rahasia umum di masyarakat. Namun untuk pasien kelas III memang diarahkan untuk mendapatkan resep obat generik atau obat-obatan yang sesuai dengan SK menkes agar bisa digratiskan.

“Intinya pasien kelas III mendapat layanan obat-obatan gratis sesuai peraturan yang berlaku” tegas Budianto lagi. Hal ini sesuai dengan kebijakan Bupati HSU yang meminta pihak RS menggratiskan semua pelayanan kesehatan dan pengobatan bagi pasien kelas III. Bupati Drs H ABdul Wahid menegaskan bahwa anggaran untuk memberikan pelayanan gratis tersebut sudah tersedia. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan drg Isnur hatta mengatakan dengan kewenangan yang dimiliki pihak RS Pambalah Batung karena sudah menyandang status sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) maka berbagai permasalahan seperti kekurangan stok obat-obatan seharusnya memang sudah bisa di atasi.

Dengan status BLUD tersebut, pihak RS. Pambalah Batung kini bisa lebih leluasa melakukan pengadaan barang dan jasa tanpa melalui proses tender. Meksi sudah bersatus BLUD per 1 Januari 2013, berbagai kendala masih di hadapi pihak RS Pambalah Batung diantaranya upaya pembenahan pengelolaan keuangan, kurangnya tenaga keperawatan dan Dokter Umum, dokter spesialis khususnya speasialis mata, Radiologi, patologi Klinik dan Naurologi. Tenaga Administrasi diberbagai ruang keperawatan, rekam medis, kearsipan, perpustakaan dan keuangan juga masih kurang.

Sebagai RS tipe C maka jumlah ruang dan tempat tidur (TT) RS di Amuntai ini sudah mencukupi yakni sebanyak 127 TT hanya perlu ditingkatkan pembenahan pengaturan ruang pasien. Namun dalam upaya menuju RS tipe B yang menyaratkan 200 TT RS Amuntai masih membutuhkan 73 TT. Meski TT untuk tipe C di RS Amuntai mencukupi, namun bila mengacu pada perbandingan jumlah penduduk HSU yang mencapau 200 ribu jiwa lebih maka jumlah TT di RS Amuntai masih belum memenuhi syarat, karena perbandingannya adalah 1 TT : 1000 penduduk.

Maka jika berpatok pada jumlah penduduknya yang cukup besar ini, Kata Masbudianto perlu diperjuangkan juga agar tipe RS Pambalah Batung ditingkatkan menjadi Tipe B guna memaksimalkan pelayanan kepada warganya. Budianto mengakui jika keberadaan bangunan baru di bagian VIP memang belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan karena kerusakan sebagain fasilitas di ruangan atas, seperti kerusakan wc, saluran air dan lainnya.

“Namun kita tetap melakukan pemeliharaan agar jika suatu saat diperlukan bisa dimanfaatkan untuk pelayanan pasien” tandasnya. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan dan kekurangan yang perlu dibenahi pihak RS membuka beberapa saluran pelayanan saran dan kritik seperti menyediakan kotak saran atau langsung menyampaikan saran ke instalasi promosi dan layanan pelanggan atau lewat handphone 0821 5120 9912 dan email rsud.pbamuntai@yahoo.co.id (Edy)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>